Seperti burung merpati betina dan burung merpati jantan, mereka berjanji
tidak akan saling meninggalkan. Tetap erat menggenggam tangan sampai maut
memisahkan. Seperti bulir embun di pagi hari, mereka bersumpah akan menjaga
semua kenangan tetap suci. Mengikat keyakinan saat badai mulai menggoyahkan
hati. Kata orang, mereka adalah potret Romeo dan Juliet masa kini. Jika salah
satu mati mengenaskan, yang satunya akan mengikuti.
xxx
Sore itu langit tampak kelabu. Hujan
memberi tanda kedatangannya. Orang-orang berkeliaran mencari kehangatan.
Seorang gadis terlihat setengah berlari menuju sebuah kafe di tengah kota. Langkahnya seperti tidak peduli dengan hujan
dan suasana dingin kota itu. Di lengan kanannya tergantung sebuah tas hitam
sepinggang. Sesekali tangan kirinya membetulkan posisi tas yang akan jatuh
karena kecepatan jalan gadis yang bernama Desira itu semakin bertambah.
Memasuki kafe tercium aroma kopi yang
menyengat. Hanya ada dua-tiga orang di dalam kafe itu. Desira memutar
kepalanya, matanya menyelidik setiap sudut ruangan. Ia mencari seseorang.
Pandangannya terhenti pada seorang pemuda yang duduk di pojok kafe. Pemuda itu
menyadari kedatangan Desira, lalu ia tersenyum melambai.
”Sori ya aku telat. Kamu udah nunggu lama?”
kata Desira sambil tangannya menarik kursi untuk dia duduki. Pandangannya masih
tertuju pada pemuda itu. Bagas namanya.
“Enggak kok. Baru beberapa menit”
“Bohong. Satu menit buat kamu kan sama aja
satu jam.”
Bagas hanya tersenyum.
“Mau pesen apa?” tanya Bagas.
“Samain aja deh”
Bagas memanggil pelayan kafe dan memesan menu.
Lalu pelayan tampak itu mengangguk mengerti sambil tersenyum.
“Jadi, kenapa kamu minta kita ketemuan
disini?” Bagas mengalihkan pandangannya pada Desira. Matanya selalu berbinar
setiap ia memandang Desira.
“Kamu nggak marah hari ini aku datang telat
padahal aku yang ngajak ketemuan? Kamu udah nunggu berapa jam disini?” Desira
malah balik bertanya pada Bagas.
“Kenapa harus marah? Kamu pasti punya alasan
kan buat telat?” Bagas membuat guratan di bibirnya. Lagi dan lagi ia tersenyum.
“Kenapa sih? Tiba-tiba tanya gitu.” Bagas
melanjutkan.
“Kamu tu sebenernya bisa marah nggak sih? Kamu
tahu, aku sengaja nelat 2 jam biar kamu marah. Tapi apa? Bukan respon kayak
gini yang aku pengen” Desira menghela napas.
“Kamu ngomong apa, Des? Aku nggak ngerti.”
Senyap. Desira tidak menjawab pertanyaan
Bagas. Ia hanya menatap lelaki yang amat sangat dicintai setelah ayahnya itu
dengan pilu.
“Aku capek” kata Desira lirih. Bola
matanya terlihat sayu. Raut mukanya juga sendu. Helaan napasnya terdengar
berat. Sore itu hujan, tapi bibir Desira bergetar bukan karena kedinginan
melainkan kegentaran yang melanda hatinya. Perlahan, bulir bening mengalir di
pipinya. Desira menangis. Suaranya parau meminta untuk ditenangkan dan Bagas
yang ada didepannya tampak bingung.
“Capek kenapa? Kamu ada masalah?
Cerita sama aku” Bagas mengernyit. Ia menjawab dengan hati-hati. Matanya
menatap sedih Desira. Hatinya ikut tercabik melihat gadis yang sangat ia
sayangi menangis.
Desira masih diam. Sibuk dengan isakannya.
Tangisannya sudah sedikit mereda.
“Kalo kamu belum siap cerita, nggak
papa. Aku nggak maksa kok. Sekarang, tenangin diri kamu dulu.” Bagas memberikan
sapu tangannya kepada Desira.
“Kamu masalahnya, Gas”
Kali ini Bagas yang diam. Desira tahu
Bagas kaget dengan jawabannya barusan tapi memang begitu kenyataannya. Bagaslah
masalahnya selama ini.
“Kamu terlalu datar, Gas.” Desira
memulai cerita.
“Kamu nyadar nggak? Empat tahun kita
pacaran kamu nggak pernah marah. Kamu selalu terima semua perlakuan aku dengan
lapang dada. Kesannya aku yang semena-mena sama kamu. Aku tahu, itu tanda
sayang kamu buat aku tapi nggak kayak gini caranya. Aku capek, Gas. Aku capek!”
Tangisan Desira kembali meledak. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Bahunya masih bergetar.
“Kamu pengen aku marah? Diluar sana
banyak yang berharap punya pacar yang pengertian kayak aku, tapi kamu malah
minta yang aneh-aneh. Kamu lucu Des”
“Pengertian sama nggak peduli itu
beda tipis. Menurut aku, kamu itu nggak peduli sama semua yang aku lakuin.
Respon kamu selalu sama. Nggak marah, nggak kesel, nggak ada gejolaknya.
Hubungan kita terlalu tenang-tenang aja dan aku malah khawatir.”
“Aku tahu kamu cinta sama aku. Aku
juga cinta. Tapi bukan berarti kalau aku jatuh cinta sama kamu terus semua yang
kamu lakuin itu benar. Kamu harus negur aku bahkan kalau perlu kamu marahin aku
kalo salah. Jangan cintai aku apa adanya, Gas. Aku bukan malaikat. Aku manusia
yang banyak salahnya.” Tangisan Desira mereda tapi masih terdengar isakannya
walaupun tidak sekeras tadi. Ia sudah bisa berbicara dengan lebih tenang.
“Aku bingung sama pola pikirmu, Des.”
satu kalimat yang keluar dari mulut Bagas membuat Desira beranjak dari tempat
duduknya. Ia berdiri,
“Kamu masih nggak ngerti juga. Kamu nggak
peka. Kayaknya kita emang udah nggak cocok, Gas. Kamu terlalu datar buat aku. Empat
tahun ini aku berusaha ngertiin kamu tapi aku nggak bisa. Aku nggak sanggup
lagi. Kamu tu rumit kayak fisika. Kamu susah dipahami kayak matematika. Dan kamu
tahu? Aku nggak pernah suka sama fisika dan matematika.” Desira geleng-geleng
kepala. Ia berbalik badan dan berjalan pergi. Meninggalkan Bagas yang masih
berusaha mencerna kata-kata Desira.
Mereka berpisah dengan berbagai
perasaan yang campur aduk. Mereka yang katanya akan setia sampai mati. Mereka yang
percaya akan hidup berdua hingga nadi terhenti. Semua hanya semu. Kini yang
tersisa hanyalah sendu dan pilu. Desira masih kesal dengan kekasihnya. Bagas masih
tak mengerti dengan apa yang dikatakan kekasihnya. Miris.
xxx
Pagi harinya. Desira terbangun dengan
suasana hati yang masih memilukan. Matanya bengkak karena menangis semalaman. Tangannya
meraba-raba meja di sebelah tempat tidur mencari ponselnya. Tengah malam. Pukul
dua belas. Ada sebuah pesan masuk, dari Bagas. Isinya,
Desira sayang. Orang bilang, jika
kita jatuh cinta pada seseorang maka kita akan langsung mengenali orang itu. Tidak
perlu lelah menjelaskan alasan mengapa kita mencintainya. Dan saat pertama kali
aku melihatmu, aku langsung tahu kamu orangnya. Kamu yang akan mengisi
hari-hariku dengan kebahagiaan.
Desira sayang. Mungkin aku bukan
Chairil Anwar yang mampu membuatkanmu berbait-bait sajak indah berbentuk puisi,
aku juga bukan Eros yang mahir membuatkanmu sebuah lagu. Keahlianku hanyalah bersikap
pengertian.
Aku mengerti kamu lelah dengan
sikapku. Maafkan aku, yang salah memahami kamu. Selama empat tahun aku berusaha
bersikap baik agar kamu tetap bertahan denganku. Aku tak menyangka bahwa ‘sikap
baik’ ku itulah yang membuatmu menjauh.
Kamu berpikir aku terlalu datar. Asal
kamu tahu, aku mencintaimu, Desira. Aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak ingin
menuntut apapun darimu karena menurut hatiku, kamu sempurna. Kamu selalu
menjadi yang terbaik untukku. Aku ingin kamu mengerti. Aku mencintaimu. Dan aku
berharap kamu dapat mencintaiku juga. Dengan caramu tentu saja.
Mulai kini, aku akan berusaha lebih
memahami kamu, Des. Tapi aku tidak akan berubah. Jangan berpikir aku egois
karena tidak mengikuti permintaanmu. Aku marah, Des. Tapi sayangnya, aku nggak
bisa berkata kasar denganmu. Kamu ingin aku seperti apa? Beginilah aku, Des. Marahku
hanya diam. Marahku hanya semu.
Sekali lagi. Aku Bagas Putra
Dewata, mencintaimu selayaknya aku mencintai bumi. Aku akan menjaganya sepenuh
hati. Sungguh, aku mencintai.
Deg!
Desira
paham. Kali ini, Desira benar-benar paham. Dia bersalah. Dia menuntut terlalu
banyak atas kekasihnya. Desira mengerti. Bahwa seseorang pasti punya jalannya
sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya. Dan Bagas, menunjukkannya dengan rasa
yang berbeda.