Minggu, 26 Maret 2017

Aku Mencintaimu, dengan Caraku.



Seperti burung merpati betina dan burung merpati jantan, mereka berjanji tidak akan saling meninggalkan. Tetap erat menggenggam tangan sampai maut memisahkan. Seperti bulir embun di pagi hari, mereka bersumpah akan menjaga semua kenangan tetap suci. Mengikat keyakinan saat badai mulai menggoyahkan hati. Kata orang, mereka adalah potret Romeo dan Juliet masa kini. Jika salah satu mati mengenaskan, yang satunya akan mengikuti.
xxx
Sore itu langit tampak kelabu. Hujan memberi tanda kedatangannya. Orang-orang berkeliaran mencari kehangatan. Seorang gadis terlihat setengah berlari menuju sebuah kafe di tengah kota. Langkahnya seperti tidak peduli dengan hujan dan suasana dingin kota itu. Di lengan kanannya tergantung sebuah tas hitam sepinggang. Sesekali tangan kirinya membetulkan posisi tas yang akan jatuh karena kecepatan jalan gadis yang bernama Desira itu semakin bertambah.
Memasuki kafe tercium aroma kopi yang menyengat. Hanya ada dua-tiga orang di dalam kafe itu. Desira memutar kepalanya, matanya menyelidik setiap sudut ruangan. Ia mencari seseorang. Pandangannya terhenti pada seorang pemuda yang duduk di pojok kafe. Pemuda itu menyadari kedatangan Desira, lalu ia tersenyum melambai.
”Sori ya aku telat. Kamu udah nunggu lama?” kata Desira sambil tangannya menarik kursi untuk dia duduki. Pandangannya masih tertuju pada pemuda itu. Bagas namanya.
“Enggak kok. Baru beberapa menit”
“Bohong. Satu menit buat kamu kan sama aja satu jam.”
Bagas hanya tersenyum.
“Mau pesen apa?” tanya Bagas.
“Samain aja deh”
Bagas memanggil pelayan kafe dan memesan menu. Lalu pelayan tampak itu mengangguk mengerti sambil tersenyum.
“Jadi, kenapa kamu minta kita ketemuan disini?” Bagas mengalihkan pandangannya pada Desira. Matanya selalu berbinar setiap ia memandang Desira.
“Kamu nggak marah hari ini aku datang telat padahal aku yang ngajak ketemuan? Kamu udah nunggu berapa jam disini?” Desira malah balik bertanya pada Bagas.
“Kenapa harus marah? Kamu pasti punya alasan kan buat telat?” Bagas membuat guratan di bibirnya. Lagi dan lagi ia tersenyum.
“Kenapa sih? Tiba-tiba tanya gitu.” Bagas melanjutkan.
“Kamu tu sebenernya bisa marah nggak sih? Kamu tahu, aku sengaja nelat 2 jam biar kamu marah. Tapi apa? Bukan respon kayak gini yang aku pengen” Desira menghela napas.
“Kamu ngomong apa, Des? Aku nggak ngerti.”
Senyap. Desira tidak menjawab pertanyaan Bagas. Ia hanya menatap lelaki yang amat sangat dicintai setelah ayahnya itu dengan pilu.
“Aku capek” kata Desira lirih. Bola matanya terlihat sayu. Raut mukanya juga sendu. Helaan napasnya terdengar berat. Sore itu hujan, tapi bibir Desira bergetar bukan karena kedinginan melainkan kegentaran yang melanda hatinya. Perlahan, bulir bening mengalir di pipinya. Desira menangis. Suaranya parau meminta untuk ditenangkan dan Bagas yang ada didepannya tampak bingung.
“Capek kenapa? Kamu ada masalah? Cerita sama aku” Bagas mengernyit. Ia menjawab dengan hati-hati. Matanya menatap sedih Desira. Hatinya ikut tercabik melihat gadis yang sangat ia sayangi menangis.
Desira masih diam. Sibuk dengan isakannya. Tangisannya sudah sedikit mereda.
“Kalo kamu belum siap cerita, nggak papa. Aku nggak maksa kok. Sekarang, tenangin diri kamu dulu.” Bagas memberikan sapu tangannya kepada Desira.
“Kamu masalahnya, Gas”
Kali ini Bagas yang diam. Desira tahu Bagas kaget dengan jawabannya barusan tapi memang begitu kenyataannya. Bagaslah masalahnya selama ini.
“Kamu terlalu datar, Gas.” Desira memulai cerita.
“Kamu nyadar nggak? Empat tahun kita pacaran kamu nggak pernah marah. Kamu selalu terima semua perlakuan aku dengan lapang dada. Kesannya aku yang semena-mena sama kamu. Aku tahu, itu tanda sayang kamu buat aku tapi nggak kayak gini caranya. Aku capek, Gas. Aku capek!” Tangisan Desira kembali meledak. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Bahunya masih bergetar.
“Kamu pengen aku marah? Diluar sana banyak yang berharap punya pacar yang pengertian kayak aku, tapi kamu malah minta yang aneh-aneh. Kamu lucu Des”
“Pengertian sama nggak peduli itu beda tipis. Menurut aku, kamu itu nggak peduli sama semua yang aku lakuin. Respon kamu selalu sama. Nggak marah, nggak kesel, nggak ada gejolaknya. Hubungan kita terlalu tenang-tenang aja dan aku malah khawatir.”
“Aku tahu kamu cinta sama aku. Aku juga cinta. Tapi bukan berarti kalau aku jatuh cinta sama kamu terus semua yang kamu lakuin itu benar. Kamu harus negur aku bahkan kalau perlu kamu marahin aku kalo salah. Jangan cintai aku apa adanya, Gas. Aku bukan malaikat. Aku manusia yang banyak salahnya.” Tangisan Desira mereda tapi masih terdengar isakannya walaupun tidak sekeras tadi. Ia sudah bisa berbicara dengan lebih tenang.
“Aku bingung sama pola pikirmu, Des.” satu kalimat yang keluar dari mulut Bagas membuat Desira beranjak dari tempat duduknya. Ia berdiri,
“Kamu masih nggak ngerti juga. Kamu nggak peka. Kayaknya kita emang udah nggak cocok, Gas. Kamu terlalu datar buat aku. Empat tahun ini aku berusaha ngertiin kamu tapi aku nggak bisa. Aku nggak sanggup lagi. Kamu tu rumit kayak fisika. Kamu susah dipahami kayak matematika. Dan kamu tahu? Aku nggak pernah suka sama fisika dan matematika.” Desira geleng-geleng kepala. Ia berbalik badan dan berjalan pergi. Meninggalkan Bagas yang masih berusaha mencerna kata-kata Desira.
Mereka berpisah dengan berbagai perasaan yang campur aduk. Mereka yang katanya akan setia sampai mati. Mereka yang percaya akan hidup berdua hingga nadi terhenti. Semua hanya semu. Kini yang tersisa hanyalah sendu dan pilu. Desira masih kesal dengan kekasihnya. Bagas masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan kekasihnya. Miris.

xxx
Pagi harinya. Desira terbangun dengan suasana hati yang masih memilukan. Matanya bengkak karena menangis semalaman. Tangannya meraba-raba meja di sebelah tempat tidur mencari ponselnya. Tengah malam. Pukul dua belas. Ada sebuah pesan masuk, dari Bagas. Isinya,
Desira sayang. Orang bilang, jika kita jatuh cinta pada seseorang maka kita akan langsung mengenali orang itu. Tidak perlu lelah menjelaskan alasan mengapa kita mencintainya. Dan saat pertama kali aku melihatmu, aku langsung tahu kamu orangnya. Kamu yang akan mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan.
Desira sayang. Mungkin aku bukan Chairil Anwar yang mampu membuatkanmu berbait-bait sajak indah berbentuk puisi, aku juga bukan Eros yang mahir membuatkanmu sebuah lagu. Keahlianku hanyalah bersikap pengertian.
Aku mengerti kamu lelah dengan sikapku. Maafkan aku, yang salah memahami kamu. Selama empat tahun aku berusaha bersikap baik agar kamu tetap bertahan denganku. Aku tak menyangka bahwa ‘sikap baik’ ku itulah yang membuatmu menjauh.
Kamu berpikir aku terlalu datar. Asal kamu tahu, aku mencintaimu, Desira. Aku mencintaimu apa adanya. Aku tidak ingin menuntut apapun darimu karena menurut hatiku, kamu sempurna. Kamu selalu menjadi yang terbaik untukku. Aku ingin kamu mengerti. Aku mencintaimu. Dan aku berharap kamu dapat mencintaiku juga. Dengan caramu tentu saja.
Mulai kini, aku akan berusaha lebih memahami kamu, Des. Tapi aku tidak akan berubah. Jangan berpikir aku egois karena tidak mengikuti permintaanmu. Aku marah, Des. Tapi sayangnya, aku nggak bisa berkata kasar denganmu. Kamu ingin aku seperti apa? Beginilah aku, Des. Marahku hanya diam. Marahku hanya semu.
Sekali lagi. Aku Bagas Putra Dewata, mencintaimu selayaknya aku mencintai bumi. Aku akan menjaganya sepenuh hati. Sungguh, aku mencintai.
Deg!
Desira paham. Kali ini, Desira benar-benar paham. Dia bersalah. Dia menuntut terlalu banyak atas kekasihnya. Desira mengerti. Bahwa seseorang pasti punya jalannya sendiri untuk menunjukkan rasa cintanya. Dan Bagas, menunjukkannya dengan rasa yang berbeda.

6 komentar:

  1. Woahh bagus banget kak kenapa gak coba di post di majalah??

    BalasHapus
  2. Kak bikin cerpen lagi donggg. Btw ada aku wattpad gitu gakk???🐴🐷🐴

    BalasHapus
  3. Btw mbak bikin cerita lagi dongg

    BalasHapus
  4. Mbak bikin cerita lagi dong. Baper nih sampe nangis kejerrr

    BalasHapus
  5. Mbak bikin cerita lagi dong. Baper nih sampe nangis kejerrr

    BalasHapus
  6. Mbak bikin cerita lagi dong. Baper nih sampe nangis kejerrr

    BalasHapus