Sabtu, 03 Juni 2017

Aku adalah Aku yang Mencintaimu



”Apa kau tahu? Aku mencintaimu. Aku selalu memandangmu dari sini, dari tempatku berdiri. Apa kau melihatku? Mata tajam yang selalu mengawasimu dari mereka para pengganggu. Apa kau bahkan tahu siapa aku? Aku adalah aku yang mencintaimu. Si gadis lugu yang coba kamu rayu secara tidak langsung melalui semua paras dan sikap yang kamu pamerkan. Aku mencintaimu, asal kau tahu. 

Sayangnya, kamu selalu menganggap aku hanya sekadar angin berlalu. Berhembus seperti tak akan kembali lagi bahkan hanya untuk sekadar singgah menghela napas. Pada hakikatnya, semua yang disia-siakan akan menjadi hal yang paling berharga pada orang yang menyia-nyiakan. Atau setidaknya, menjadi hal yang dibutuhkan. Yakini saja bahwa usaha yang tidak pernah kamu hargai ini akan berarti suatu saat nanti.

Aku disini, asal kau tahu. Jenuh menunggu sesuatu yang kukira akan datang pada saatnya. Namun, insting manusia kadang salah memberi arah. Sesuatu itu tak pernah datang. Bahkan, bulan sudah menampakkan seluruh tubuhnya ribuan kali, tapi suatu itu tak pernah sekalipun datang. Apa yang sebenarnya aku tunggu? Apa sesuatu itu bahkan tahu aku sedang menunggunya? Pada dasarnya, setiap pertanyaan pasti selalu dipasangkan dengan jawaban, tapi mengapa ini tidak? Tidak ada jawaban atas pertanyaanku. Atau mungkin aku yang terlalu malas mencari jawabannya?

Tapi dengan bodohnya aku tetap disini, asal kau tahu. Mengikuti insting manusia yang salah itu. Anehnya, aku suka. Semakin sakit maka aku semakin suka. Apa arti mencintai yang sebenarnya? Bahwa melihat kamu bahagia, meskipun itu bukan dengan atau karena aku tapi aku juga bahagia. Sungguh. Sejatinya, setiap orang pasti akan merasa sakit jika perasaannya dibalas dengan penolakan, tapi sungguh. Aku benar-benar bersungguh-sungguh, setiap orang itu pasti akan ikut bahagia jika orang yang dicintainya bahagia. Bukan bagaimana meratapi penolakan tapi bagaimana mempelajari keikhlasan.

Dan aku ikhlas. Hidup tidak bisa selalu menyenangkan. Terkadang kita harus merasakan apa itu kehilangan. Tapi, tetap ikut sumringah melihatmu tersenyum megah. Sungguh, aku masih mencintaimu. Tak apa-apa, tak perlu merasa terbebani. Cukup diam dan lakukan semua seperti biasa. Aku juga akan diam. Aku juga akan memendam.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar