”Apa kau tahu? Aku mencintaimu. Aku selalu memandangmu dari
sini, dari tempatku berdiri. Apa kau melihatku? Mata tajam yang selalu
mengawasimu dari mereka para pengganggu. Apa kau bahkan tahu siapa aku? Aku
adalah aku yang mencintaimu. Si gadis lugu yang coba kamu rayu secara tidak
langsung melalui semua paras dan sikap yang kamu pamerkan. Aku mencintaimu,
asal kau tahu.
Sayangnya, kamu selalu menganggap aku hanya sekadar angin
berlalu. Berhembus seperti tak akan kembali lagi bahkan hanya untuk sekadar singgah
menghela napas. Pada hakikatnya, semua yang disia-siakan akan menjadi hal yang
paling berharga pada orang yang menyia-nyiakan. Atau setidaknya, menjadi hal
yang dibutuhkan. Yakini saja bahwa usaha yang tidak pernah kamu hargai ini akan
berarti suatu saat nanti.
Aku disini, asal kau tahu. Jenuh menunggu sesuatu yang kukira
akan datang pada saatnya. Namun, insting manusia kadang salah memberi arah.
Sesuatu itu tak pernah datang. Bahkan, bulan sudah menampakkan seluruh tubuhnya
ribuan kali, tapi suatu itu tak pernah sekalipun datang. Apa yang sebenarnya
aku tunggu? Apa sesuatu itu bahkan tahu aku sedang menunggunya? Pada dasarnya,
setiap pertanyaan pasti selalu dipasangkan dengan jawaban, tapi mengapa ini
tidak? Tidak ada jawaban atas pertanyaanku. Atau mungkin aku yang terlalu malas
mencari jawabannya?
Tapi dengan bodohnya aku tetap disini, asal kau tahu.
Mengikuti insting manusia yang salah itu. Anehnya, aku suka. Semakin sakit maka
aku semakin suka. Apa arti mencintai yang sebenarnya? Bahwa melihat kamu
bahagia, meskipun itu bukan dengan atau karena aku tapi aku juga bahagia.
Sungguh. Sejatinya, setiap orang pasti akan merasa sakit jika perasaannya
dibalas dengan penolakan, tapi sungguh. Aku benar-benar bersungguh-sungguh,
setiap orang itu pasti akan ikut bahagia jika orang yang dicintainya bahagia.
Bukan bagaimana meratapi penolakan tapi bagaimana mempelajari keikhlasan.
Dan aku ikhlas. Hidup tidak bisa selalu menyenangkan.
Terkadang kita harus merasakan apa itu kehilangan. Tapi, tetap ikut sumringah melihatmu
tersenyum megah. Sungguh, aku masih mencintaimu. Tak apa-apa, tak perlu merasa
terbebani. Cukup diam dan lakukan semua seperti biasa. Aku juga akan diam. Aku
juga akan memendam.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar